Latar Belakang Kitab Roma
1. Penulis (Authorship)
Identitas Penulis
Roma 1:1 secara eksplisit menyebut bahwa penulisnya adalah Paulus. Sepanjang sejarah, hanya Roma 1:1 menegaskan bahwa Paulus adalah penulis surat ini. Kepenulisannya diakui secara luas oleh mayoritas ahli Perjanjian Baru tanpa perdebatan berarti. Namun, Paulus tidak menuliskannya secara fisik; Roma 16:22 mencatat bahwa Tertius yang menuliskannya. Dalam tradisi surat-menyurat Yunani-Romawi, Tertius bertindak sebagai amanuensis (juru tulis) yang mencatat dikte dari Paulus.
Kualifikasi dan Peran
Sebelum menjadi rasul, Paulus dikenal sebagai Saulus dari Tarsus, seorang Farisi yang gigih mempertahankan Taurat dan sempat menganiaya jemaat Kristen awal. Pengalaman perjumpaannya dengan Kristus yang bangkit di perjalanan Paulus menuju Damsyik mengubah arah hidupnya secara radikal. Ia dipanggil menjadi rasul bagi bangsa-bangsa lain dan mulai menggunakan nama Romawinya, Paulus, dalam pelayanan misinya di wilayah Kekaisaran Romawi.
Gaya Penulisan
Surat Roma mengikuti format standar surat Yunani-Romawi kuno (memuat salam pembuka, ucapan syukur, isi surat, nasihat moral atau paraenesis, salam pribadi, dan berkat penutup), tetapi tubuh suratnya sangat panjang dan terstruktur rapi menyerupai risalah teologis. Gaya bahasanya megah sekaligus dinamis karena menggunakan metode diatribe teknik retorika khas orator Romawi yang memanfaatkan dialog imajiner, pertanyaan retoris, dan argumen interaktif. Perpaduan ini menjadikan Roma sebuah karya yang berbobot secara teologis namun tetap komunikatif.
2. Tanggal dan Tempat Penulisan (Date & Location)
Waktu Penulisan
Para ahli secara luas sepakat bahwa surat ini ditulis pada pertengahan hingga akhir dekade 50-an M (sekitar 56–58 M), menjelang akhir perjalanan misi ketiga Paulus. Rentang waktu ini didasarkan pada rencana Paulus yang hendak membawa persembahan ke Yerusalem sebelum akhirnya ditangkap. Perbedaan angka tahun yang ada hanyalah variasi wajar dalam menyusun kronologi detail pelayanan Paulus.
Lokasi Penulisan
Paulus kemungkinan besar menulis Surat Roma dari Korintus di akhir perjalanan misi ketiganya, sebelum membawa persembahan untuk jemaat miskin di Yerusalem. Kesimpulan ini didukung beberapa petunjuk internal:
- Febe, pembawa surat ini, berasal dari Kengkrea (pelabuhan dekat Korintus).
- Gayus, tuan rumah Paulus, kemungkinan adalah orang percaya yang sama dengan yang disebutkan dalam 1 Korintus 1:14.
- Catatan pada beberapa naskah kuno juga menegaskan bahwa surat ini ditulis di Korintus melalui juru tulis bernama Tertius.
3. Penerima Awal (Original Audience)
Identitas Penerima
Surat ini ditujukan kepada jemaat di Roma (Roma 1:7) yang belum pernah dikunjungi Paulus secara pribadi. Secara historis, tidak ada bukti kuat bahwa jemaat ini didirikan oleh Petrus. Jemaat Roma kemungkinan besar berdiri melalui orang percaya yang bertobat pada hari Pentakosta (Kisah Para Rasul 2:10) atau hasil pelayanan Paulus di wilayah lain yang kemudian pindah ke Roma. Hal ini didukung oleh pernyataan Paulus yang tidak menganggap Roma sebagai wilayah pelayanan rasul lain (Roma 15:20).
Kondisi Penerima
Jemaat ini adalah campuran orang percaya Yahudi dan bukan Yahudi, meski tampaknya mayoritas anggotanya adalah bukan Yahudi (bdk. Roma 1:5-6, 13; 11:13; 15:15-16). Latar belakang campuran inilah yang menjadi sumber ketegangan di dalam jemaat. Kronologi ketegangan itu cukup jelas, bahwa Kaisar Klaudius pernah mengusir seluruh orang Yahudi dari Roma; sekitar lima tahun kemudian mereka diizinkan kembali, namun mendapati bahwa jemaat yang mereka tinggalkan telah berkembang mengikuti kebiasaan bukan Yahudi. Benturan budaya ini memicu perpecahan, dengan perdebatan seputar apakah orang percaya bukan Yahudi perlu memelihara Sabat, makanan halal Yahudi (kosher), dan sunat. Sejarawan Romawi Suetonius mencatat bahwa Klaudius mengusir orang Yahudi dari Roma sekitar tahun 49 M karena kerusuhan terkait sosok "Chrestus" yang diyakini merujuk pada Kristus dan peristiwa ini juga dikonfirmasi dalam Kisah Para Rasul 18:2. Di sisi lain, iman jemaat ini sudah termasyhur ke seluruh dunia (Roma 1:8) tanda bahwa, di tengah ketegangan itu, iman mereka tetap dikenal luas.
4. Konteks Historis, Politik, dan Budaya (Historical & Cultural Context)
Kondisi Politik
Roma berawal dari kota kecil di tepi Sungai Tiber, Roma berkembang pesat menjadi pusat kekaisaran melalui berbagai penaklukan wilayah dari Italia, Afrika Utara, Yunani, hingga Timur Dekat. Pada masa penulisan Surat Roma, sistem pemerintahan telah beralih dari republik pimpinan senat menjadi kekaisaran tersentralisasi di bawah kaisar. Masa dinasti ini dimulai dari Augustus hingga Nero, kaisar yang sedang memegang kekuasaan saat surat ini ditulis.
Latar Belakang Sosial dan Budaya
Roma adalah kota megah sekaligus keras. Bukti arkeologis menunjukkan berbagai bangunan monumental yang berdiri pada masa itu di antaranya, Circus Maximus, Tabularium (arsip negara), berbagai teater, serta forum-forum seperti Forum Kaisar dan Forum Augustus. Kehidupan sehari-hari di Roma bisa sangat mewah bagi kalangan berada, namun berat bagi rakyat kebanyakan yang umumnya tinggal di insulae, bangunan apartemen bertingkat yang padat. Para penulis pada zaman itu menggambarkan Roma sebagai kota yang sesak, bising, dan bau, tempat segala jenis kebajikan dan kejahatan manusia bisa ditemukan. Penduduknya sebagian besar penyembah berhala, meski ada populasi Yahudi yang cukup besar. Belakangan, pada tahun 64 M, sebagian besar kota ini hancur akibat kebakaran besar semasa Nero, yang kemudian menuduh dan menganiaya orang Kristen sebagai kambing hitam atas peristiwa itu.
Kondisi Geografis
Sebagai ibu kota kekaisaran yang membentang dari Eropa Barat hingga Timur Dekat, Roma menempati posisi geografis yang menjadikannya pusat jalur perdagangan dan pemerintahan. Bahan makanan harus diimpor untuk mencukupi kebutuhan kota metropolitan ini, dan kaisar sering kali langsung mengawasi pasokan gandum yang vital bagi penduduknya. Posisi strategis inilah yang menjelaskan mengapa Paulus, dalam rencana misinya ke Spanyol (Roma 15:24, 28), memandang Roma sebagai batu loncatan penting untuk menjangkau wilayah barat kekaisaran.
5. Konteks Keagamaan dan Teologis (Religious Context)
Tantangan Keagamaan
Roma dipenuhi kuil bagi berbagai dewa-dewi kuno seperti Mars, Saturnus, Castor dan Pollux, Vesta, Venus dan Roma, Apollo, hingga Jupiter, dengan Pantheon sebagai kuil paling megah yang menampung penyembahan hampir seluruh dewa besar Romawi sekaligus. Di tengah lautan penyembahan berhala semacam inilah jemaat kecil orang percaya di Roma harus hidup dan bersaksi. Namun tantangan yang lebih mendesak justru datang dari dalam jemaat sendiri: ketegangan antara orang percaya Yahudi dan bukan Yahudi soal bagaimana semestinya hidup sebagai umat Allah. Sejumlah pertanyaan teologis bergulir di jemaat ini "Apakah seseorang bisa benar di hadapan Allah lewat menaati hukum Taurat?", "Apa makna keteladanan iman Abraham bagi orang Yahudi maupun bukan Yahudi?", "Apa peran hukum Taurat dalam kaitannya dengan dosa?", "Apa arti keselamatan bangsa-bangsa bukan Yahudi bagi masa depan Israel sebagai umat pilihan?", dan "Apakah orang percaya perlu memelihara aturan makanan Perjanjian Lama?".
Kondisi Spiritual
Meski diwarnai ketegangan internal, kesaksian tentang jemaat Roma secara keseluruhan justru positif. Iman mereka dikatakan Paulus telah "diberitakan ke seluruh dunia" (Roma 1:8), ini adalah sebuah pujian yang mencerminkan kerinduan istimewa Paulus terhadap jemaat ini, sebagian karena statusnya sendiri sebagai warga negara Romawi. Kerinduan Paulus untuk mengunjungi mereka begitu tulus sehingga ia berulang kali merencanakan kunjungan itu, meski selalu terhalang (Roma 1:13-15; 15:22).
6. Maksud dan Tujuan Penulisan (Purpose & Occasion)
Alasan Penulisan (Occasion)
Ada dua alasan praktis yang mendorong Paulus menulis surat ini. Pertama, tampaknya kabar burung yang memelintir ajaran dan Injil yang Paulus beritakan telah sampai ke telinga jemaat Roma (bandingkan Roma 3:8; 6:1-2,15), sehingga Paulus merasa perlu menuliskan secara utuh Injil yang telah ia beritakan selama kurang lebih dua puluh lima tahun pelayanannya. Kedua, ia ingin meluruskan persoalan yang muncul akibat sikap keliru sebagian orang Yahudi terhadap orang bukan Yahudi, dan sebaliknya (Roma 2:1-29; 3:1,9; 11:11-36) persis ketegangan yang sudah disinggung pada bagian latar belakang penerima di atas.
Tujuan Utama (Purpose)
Paulus ingin jemaat yang terpecah ini kembali bersatu, dan secara praktis, ia berharap jemaat Roma bisa menjadi basis dukungan bagi misinya lebih jauh ke barat, ke Spanyol. Situasi yang penuh ketegangan inilah yang justru mendorong Paulus menuliskan penjelasan paling lengkap tentang Injil yang pernah ia tulis. Selain tujuan misioner dan pastoral, ada pula nada apologetik dalam surat ini, Paulus tampak berusaha membangun kredibilitas di hadapan jemaat yang belum mengenalnya secara pribadi, sekaligus mempersiapkan landasan teologis yang kokoh sebelum kedatangannya. Pada akhirnya, tujuan tertinggi dari seluruh pemberitaan Injil ini adalah kemuliaan Allah sendiri, supaya bangsa-bangsa bukan Yahudi pun sampai kepada ketaatan iman demi nama Kristus (Roma 1:5; 11:33-36).
7. Genre Sastra dan Struktur (Literary Genre & Structure)
Jenis Sastra (Genre)
Roma adalah sebuah epistola (surat) Perjanjian Baru, namun dengan corak yang unik: bagian tubuhnya tersusun begitu rapi dan sistematis sehingga sering dibaca layaknya risalah teologis. Memahami Roma menuntut perhatian cermat terhadap detail doktrinalnya, karena keutuhan argumen adalah kekuatan utama surat ini — argumen besar yang menjelaskan rencana kekal Allah untuk menyelamatkan orang berdosa.
Garis Besar/Gaya Bahasa
Secara garis besar, surat ini bergerak dalam empat gerakan pemikiran: pasal 1–4 (Injil menyingkapkan kebenaran Allah), pasal 5–8 (Injil mencipta umat manusia baru), pasal 9–11 (Injil menggenapi janji Allah bagi Israel), dan pasal 12–16 (Injil menyatukan jemaat). Secara lebih rinci, garis besar ini bisa dibagi menjadi delapan bagian: salam dan tema (1:1-17); kebenaran Allah dinyatakan dalam murka-Nya atas dosa, baik orang Yahudi maupun bukan Yahudi (1:18-3:20); kebenaran Allah yang menyelamatkan lewat kematian Kristus dan iman, dengan Abraham sebagai teladan (3:21-4:25); pengharapan yang lahir dari kebenaran oleh iman, termasuk kemenangan anugerah atas dosa dan hukum Taurat serta hidup dalam Roh (5:1-8:39); kebenaran Allah bagi Israel dan bangsa-bangsa lain (9:1-11:36); kebenaran Allah dalam kehidupan sehari-hari (12:1-15:13); perluasan misi Paulus (15:14-16:23); dan doksologi penutup (16:25-27). Sepanjang argumen ini, Paulus memakai gaya diatribe yang telah disinggung di bagian gaya penulisan berupa dialog dengan lawan bicara hipotetis dan pertanyaan retoris untuk menuntun pembaca selangkah demi selangkah menuju kesimpulan teologisnya.
8. Tema-Tema Teologis Utama (Major Theological Themes)
Doktrin Kunci
Tema besar Roma adalah penyingkapan kebenaran Allah yang sekaligus menghakimi dan menyelamatkan, dinyatakan dalam Injil Yesus Kristus dalam kepenuhan salib Kristus, Allah menghakimi dosa sekaligus menyatakan belas kasihan-Nya yang menyelamatkan. Dari tema besar ini mengalir sejumlah doktrin kunci: bahwa semua manusia, tanpa kecuali, adalah orang berdosa yang membutuhkan keselamatan; bahwa hukum Taurat, sekalipun baik dan kudus, tidak sanggup mengalahkan kuasa dosa; bahwa pembenaran adalah oleh iman semata; bahwa kematian Kristus yang menebus dosa menjadi pusat dari seluruh rencana keselamatan Allah; dan ini yang barangkali paling mencolok bahwa Allah berdaulat penuh dalam keselamatan, mengerjakan segala sesuatu menurut rencana-Nya sendiri (bertumpu pada Roma 9:1-11:36). Poin terakhir ini tergambar dengan gamblang lewat kisah Israel, bahkan ketika sebagian besar bangsa Israel menolak Mesias mereka sendiri, Allah tetap berdaulat mengarahkan penolakan itu untuk menggenapi tujuan penebusan-Nya yang lebih besar menjadikan Injil semakin tersebar luas ke bangsa-bangsa lain. Konsep "pembenaran" (justification) sendiri secara harfiah berarti "dinyatakan benar". Bukan karena usaha manusia, melainkan status baru yang diberikan cuma-cuma oleh Allah kepada siapa saja yang percaya kepada Kristus.
Kontribusi dalam Kanon
Roma memberi sumbangan yang begitu besar bagi jalinan besar kisah penebusan Allah dalam seluruh Kitab Suci. Kitab ini bisa dirangkum sebagai penggenapan janji-janji keselamatan Perjanjian Lama di dalam Injil kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, sebuah Injil yang menjangkau baik orang Yahudi maupun bukan Yahudi, menggenapi rencana Allah sejak awal untuk memberkati segala bangsa (bandingkan Kejadian 12:3). Dampak historis surat ini pun luar biasa: ketika orang percaya menemukan kembali surat-surat seperti Roma pada masa Reformasi, hal ini mengubah wajah gereja secara besar-besaran. Orang-orang percaya menyadari bahwa keselamatan sama sekali bukan hasil dari apa yang mereka usahakan sendiri, melainkan semata-mata anugerah yang diterima lewat iman. Warisan itulah yang menjadikan Roma, hingga hari ini, dipandang sebagai salah satu kitab yang paling berpengaruh dalam membentuk pemahaman gereja tentang Injil.
Sumber dan Referensi
- https://www.thegospelcoalition.org/course/introduction-to-romans/
- https://www.thegospelcoalition.org/themelios/article/why-paul-wrote-romans-putting-the-pieces-together/
- https://bibleproject.com/guides/book-of-romans/
- https://www.gotquestions.org/book-of-romans.html
- https://alkitab.sabda.org/article.php?id=45
- https://alkitab.sabda.org/article.php?id=177
- https://alkitab.sabda.org/article.php?id=721
- https://www.logos.com/grow/thomas-schreiner-talks-romans-2nd-edition/